Apakah anda pernah mengunjungi suatu tempat bersejarah kemudian disambut dengan atraksi tarian yang dilakoni oleh dua orang menggunakan tameng dan sebilah cambuk rotan dan diiringi menggunakan gendang yang sangat besar? Atau mungkin  anda pernah mendengar orang mengepel lantai rumah menggunakan kotoran sapi atau kerbau? Bahkan pernahkah anda membaca atau mungkin mendengar kisah orang menikah dengan cara di culik? Yupsss.. itu beberapa hal unik yang hanya akan anda temukan di sebuah desa adat yang terdapat di Pulau Lombok yakni Desa Sade.

Berkunjung ke Lombok Tengah belum lengkap rasanya jika belum mampir mengunjungi Desa Sade yang terletak di pinggir jalan raya Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah dan tidak jauh dari Bandara Internasional Lombok. Desa ini menjadi salah satu objek wisata yang selalu dikunjungi oleh wisatawan Desa ini dihuni oleh masyarakat asli suku Sasak yang masih mempertahan tradisi leluhur. Mulai dari bentuk rumah, bahasa sehari-hari hingga adat istiadat sebagai pedoman hidup. Bentuk rumah yang menjadi ciri khas Desa ini adalah arsitekturnya yang masih menggunakan bahan-bahan tradisional dari alam  seperti atap yang terbuat dari alang-alang, kemudian dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan lantai yang terbuat dari tanah, getah pohon dan abu jerami yang selalu di lumuri oleh kotoran sapi atau kerbau yang masih basah. Hal ini tentu membuat kita sedikit mengerenyitkan dahi ya, pasalnya apakah kotoran sapi tersebut tidak mengeluarkan bau?? Naahh itulah uniknya karena konon katanya aroma ini mampu mengusir nyamuk dan berbagai serangga lainnya dan  setelah kering lantai ini justru tidak akan mengeluarkan bau dan akan membuat lantai kian kokoh. Membersihkan lantai tersebut biasanya dilakukan menjelang perayaan adat atau acara tertentu lainnya.

Rata-rata kaum pria di Desa ini bekerja sebagai petani dan kaum perempuan melakukan pekerjaan menenun kain. Menenun ini di wariskan secara turun temurun, bahkan wanita yang telah cukup umur dan berniat akan menikah harus terlebih dahulu mengerti cara menenun kain. Untuk pakaian sehari-hari berbeda dengan desa-desa lain penggunaan pakaian adat umumnya hanya digunakan pada perayaan atau acara tradisi tertentu berbeda dengan Desa sade pakaian adat digunakan dalam sehari-hari, meskipun tidak keseluruhan menggunakannya, pengunjung bisa menikmati dan merasakan sensasi kembali ke zaman dulu karena masyarakat setempat selalu memegang teguh adat istiadat dan sedikitpun tidak tergerus dengan dunia modernisasi.

Keunikan lain dari Desa Sade adalah masyarakatnya yang masih sangat kental mempertahankan adat istiadat suku sasak, salah satunya adalah proses pernikahan. Terdapat sekitar 700 jiwa penghuni di Desa Sade pernikahan yang dilakukan disana pun masih satu rumpun sehingga keaslian warganya pun msih sangat terjaga. Prosesnya pun dilakukan dengan cara yang unik yaitu dengan membawa lari atau menculik calon pengantin wanitanya, tapi proses penculikan disini tidak seekstrim yang dibayangkan lho ya karena yang dimaksudkan adalah sang wanita dibawa kerumah sang pria tanpa sepengetahuan orang tua wanitanya. Barulah keesokan harinya pihak keluarga laki-laki mengabarkan kepada orang tua perempuan bahwa anaknya baik-baik saja dan meminta orang tua perempuan sebagai wali untuk menikahkan anaknya. Pengantin perempuan tidak dipekenankan untuk pulang kerumahnya sebelum segala prosesi pernikahan selesai dilakukan hingga acara nyongkolan.

Acara nyongkolan ini biasanya cukup menyedot perhatian wisatawan yang berkunjung terutama wisatawan asing, karena prosesi nyongkolan ini dilakukan denga cara pengantin diarak dengan menggunakan pakaian adat sasak serta diiringi dengan gendang beleq. Seru bukan !

WhatsApp WhatsApp us